Selasa, 26 Februari 2013

Hasduk Berpola: Pramuka Mengubah Duniaku


Nggak tahu aku suka dengan Pramuka sejak kapan, SD barangkali atau bisa jadi sebelum aku sekolah aku sudah suka dengan Pramuka. Ha? Kok bisa?

Kenalin, aku Nikken Derek Saputri. Sampai saat ini masih tercatat sebagai anggota Pramuka di Kabupaten Demak. Jika ditanya sejak kapan suka atau tertarik dengan Pramuka, aku nggak bisa jawab memberi jawaban pasti. Tepatnya aku nggak tahu, namun sejak kecil saat aku belum sekolah aku sering memperhatikan tetanggaku, anak-anak sekolah dan yang terdekat adalah Om-ku sendiri yang tiap hari Jum’at selalu berpakaian coklat-coklat membawa tongkat dan berangkat ke sekolah. Pada waktu itu aku nggak tahu untuk apa? kemudian cerita-cerita mereka tentang kegiatan berkemah membuatku penasaran. Kemudian aku berpikir, kapan giliranku?
Kiprahku dalam dunia kepramukaan dimulai sejak kelas 4 SD. Aku terpilih untuk menadi salah satu peserta Jambore Ranting mewakili sekolah. Begitu bangganya diriku saat itu dan tentunya sangat senang sekali. Bagaimana tidak, hal yang aku impikan sejak dulu akan terwujud. Berkemah.
Begitu senangnya berkemah, mengikuti berbagai lomba di sana meskipun harus makan seadanya, kepanasan, jarang mandi namun itulah pengalaman yang sangat berharga dan tidak semua orang dapat merasakannya. Dari situlah awal kecintaanku akan dunia Pramuka menemui jalan terang.

Berlanjut ke SMP. Aku baru tahu kalau ternyata ekstra Pramuka diwajibkan untuk siswa kelas 1. Bagi sebagian siswa mungkin suatu hal yang berat dan menjengkelkan harus mengikuti kegiatan Pramuka karena diwajibkan. Tapi bagiku nggak. Dengan suka rela aku tak pernah absen (kecuali pas sakit) berangkat Pramuka. Karena aku yakin pasti ada suatu alasan yang tujuan baik tentunya sehingga Pramuka wajib diikuti oleh siswa sekolah.
Kenaikan kelas mungkin dianggap kebebasan dari keharusan mengikuti Pramuka bagi sebagian siswa. Ketika yang lain bebas, justru aku ingin menceburkan diri kedalamnya. Ya, aku bergabung dalam jajaran Pemimpin Pasukan (Pimpas). Berbagai pengalaman aku dapatkan. Ilmu tentang kepramukaan seperti air yang mengalir tanpa henti membuatku semakin bangga dan cinta terhadap Pramuka.
Mungkin karena aku terlalu rajin, akhirnya untuk kedua kalinya aku terpilih mewakili sekolah untuk mengikuti Jambore Ranting. Sedikit berbeda dengan di SD, untuk kali ini aku mendapat kepercayaan untuk menjadi Pemimpin Regu. Suatu kebanggaan yang luar biasa. Aku masih ingat saat itu nama reguku adalah Teratai. 
Bekal pengalaman dari dunia penggalang aku jadikan bekal untuk masuk ke dunia penegak. Ya, aku lanjutkan lagi karir kepramukaanku ke SMA. Dunia Penegak aku anggap sebagai jendela dimana aku bisa melihat Pramuka secara lebih luas. Pengalaman berkemah, teknik kepramukaan, mengadakan kegiatan, mengikuti syarat kecapakan, mengikuti berbagai macam lomba. Dan waow!!!! Semuanya itu belum tentu aku temukan di organisasi lain. Apalagi ketika aku berhasil dilantik menjadi Pramuka Penegak Laksana, itu adalah hal yang paling luar biasa.
Lulus SMA dan masuk Perguruan Tinggi bukan berarti aku tinggalkan seragam coklatku. Malah aku semakin sering mengenakannya. Aku bergabung di Racana. Kalau tadi aku sebutkan Pramuka di SMA seperti jendela, kini aku sebut Pramuka di Perguruan Tinggi adalah pintu yang dapat membawaku ke pengalaman-pengalaman yang lebih luas lagi. aku bingung harus cerita apalagi, karena terlalu banyak hal yang sudah aku dapatkan dari Pramuka.
Satu dampak aku mengikuti Pramuka yang sampai saat ini aku rasakan adalah, kepercayaan diri. Boleh bertanya kepada teman-temanku, aku adalah seorang yang pendiam, penyendiri, tak berani berpendapat, dan jarang mempunyai rasa percaya diri, temanpun Cuma sedikit. Sampai pada suatu ketika Ayahku berkata kalau aku tetap seperti ini, aku tak akan bisa hidup bermasyarakat. Aku camkan baik-baik pesan ayahku itu dan aku putuskan. Ya, Pramuka adalah media untuk perubahanku.
Dan sekarang, setelah sekian tahun berkecimpung dalam dunia Pramuka sudah tak ada lagi yang namanya Nikken yang pendiam, penyendiri, tak bersemangat dan kurang percaya diri. Semua itu berganti dengan Nikken yang periang, selalu bersemangat, suka berkumpul dengan teman dan always percaya diri. Memang, tak dipungkiri kadang namanya juga manusia ada kalanya down, satu kalimat yang akan membuatku kembali seperti semula:
“Aku Pramuka, Aku Berbeda!!!”
Seketika itu aku kembali seperti semula.
Pramuka juga mengantarkanku untuk bertemu dengan tokoh-tokoh di Indonesia. Sebut saja, Andi Malarangeng yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, Dede Yusuf (Wakil Guberneur Jawa Barat sekaligus Ketua kwartir Jawa Barat), Sri Sultan Hamengkubowono XI, Bibit Waluyo, bahkan sampai RI-2 Budiyono. 
Jika ada kata yang melibihi dari “Luar biasa” aku akan menngunakan untuk menyatakan betapa bermanfaatnya Pramuka. Ya, Pramuka telah mengubahku. Mengubahku menjadi sosok yang berbeda dan insyaAllah lebih baik.

0 komentar:

Poskan Komentar